Wednesday, January 6, 2016

Kebijakan Kependudukan China dan Indonesia : Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Penduduk dan Reaksi Masyarakat

Ilustrasi Kebijakan Satu Anak di China/thegospelcoalition.org

Kebijakan 'satu anak' China yang diharapkan mampu menekan angka kelahiran hingga 400 juta jiwa, kenyataannya tidak efektif dan malah menimbulkan lonjakan kependudukan. Namun sepertinya hal – hal represif yang berkaitan dengan kebijakan itu akan segera berakhir. Mulai Januari 2016 China secara resmi memberlakukan kebijakan dua anak untuk setiap pasangan. 
Berbeda dengan China, Indonesia sudah lebih dulu melakukan pembatasan laju pertumbuhan penduduk. Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini lebih sigap dalam menggalakkan program dua anak cukup. Dikenal dengan nama Keluarga Berencana (KB), program ini sudah dirintis sejak tahun 1957. 
Semakin cepatnya laju pertumbuhan negara – negara dunia menjadi hal yang perlu diperhatikan karena tingginya pertumbuhan penduduk tidak dapat dibarengi dengan perluasan wilayah negara tersebut. Data yang diterbitkan oleh BKKBN pada 2014 menyebutkan bahwa penduduk dunia menjadi tujuh miliar orang pada tahun 2011 meningkat satu miliar hanya dalam waktu dua belas tahun dari tahun 1999. Sedangkan peningkatan jumlah penduduk yang sama dihasilkan selama kurun waktu 15 tahun pada 1959 – 1974 dan dalam kurun waktu 30 tahun pada 1930 – 1959.

Pembatasan laju pertumbuhan penduduk dunia telah dilakukan di berbagai negara melalui berbagai kebijakan kependudukan. India melalui kebijakan National Rural Health Mission (NRHM) yang diterapkan sekitar tahun 1990, Filipina dengan Population Act pada tahun 1971, Bangladesh memulai pada tahun 1976, sedangkan Korea Selatan baru memulai pada tahun 2010 dengan Saeromaji Plan.

Di China, pembatasan pertumbuhan penduduk sudah mulai dilakukan sejak tahun 1980. Deng Xiaoping, presiden China masa itu, menerapkan “Kebijakan Satu Anak”. Kebijakan ini dituangkan dalam Peraturan Presiden No 63 yang bernama Hukum Perencanaan Keluarga untuk Republik Rakyat China. Penerapan kebijakan ini langsung terlihat hasilnya dengan turunnya pertumbuhan penduduk dari 33,43 anak perseribu orang pada tahun 1970 menjadi 17,7 anak perseribu orang. Namun tampaknya kebijakan ini terlalu represif sehingga menghasilkan dampak negatif berupa pelanggaran HAM, seperti aborsi, pembunuhan dan pelanggaran HAM lainnya (Pazli dan Purwasandi, 2013).

Zhao Bingli, seorang anggota Komisi Perencanaan Keluarga Nasional, membenarkan bahwa kebijakan satu anak terkadang dilakukan dengan cukup keras. Misalnya, memiliki anak lebih dari satu akan dikenakan denda yang sangat besar, melakukan sterilisasi pada pasangan yang telah memiliki satu anak, pemasangan intraurine device  (IUD) kepada wanita yang telah memiliki satu anak, serta aborsi bagi wanita yang telah memiliki satu anak tetapi terlanjur hamil. Semua itu terkadang dilakukan dengan pemaksaan (lawcoercion) oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab tanpa mengindahkan aspek kemanusiaan dan kesehatan reproduksi (Pazli dan Purwasandi, 2013).

Dilansir dari CNN, Wang Feng, seorang profesor di Universitas Fudan dan ahli demografi terkemuka di Cina, menyatakan bahwa “kebijakan satu anak di China adalah suatu kesalahan kebijakan China diera modern” dan bahwa “kebijakan tersebut sesugguhnya tidak efektif dan tidak perlu karena tingkat kesuburan China telah melambat pada 1980”. Kebijakan 'satu anak' China yang diharapkan mampu menekan angka kelahiran hingga 400 juta jiwa, kenyataannya tidak efektif dan malah menimbulkan lonjakan kependudukan. Namun sepertinya hal – hal represif yang berkaitan dengan kebijakan itu akan segera berakhir. Mulai Januari 2016 china secara resmi memberlakukan kebijakan dua anak untuk setiap pasangan. 

Diberitakan The Guardian mengutip China Business News, Kamis (23/7) menjelaskan bahwa keputusan nyata untuk membawa kebijakan 'dua anak' ini didorong oleh tumbuhnya oposisi publik terhadap hukum keluarga berencana. Internet, yang kini bisa diakses oleh 650 juta penduduk China, telah menyatakan ketidaksukaan dan lebih berani mengungkap hal itu sekarang. Pemerintah, di bawah tekanan publik yang meningkat, perlu menanggapi permintaan masyarakat. Para ahli memperingatkan bahwa populasi China saat ini didominasi orang tua, sementara usia produktif kian merosot. PBB memperkirakan China akan memiliki populasi usia di atas 60 tahun sebanyak 440 juta pada 2050 mendatang. Hal ini tentunya tidak menguntungkan bagi perekonomian dan industri China.

Berbeda dengan China, Indonesia sudah lebih dulu melakukan pembatasan laju pertumbuhan penduduk. Negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia ini lebih sigap dalam menggalakkan program dua anak cukup. Dikenal dengan nama Keluarga Berencana (KB), program ini sudah dirintis sejak tahun 1957. Namun, baru diresmikan pada tahun 1970 melalui Keputusan Presiden No. 8 tahun 1970 tentang pembentukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.

Lebih dari empat dekade pelaksanaannya, KB ini sukses membingkai pola pikir rakyat Indonesia. Jargon "dua anak cukup" meresap dalam persepsi public sebagai potret keluarga ideal. Program ini berhasil mencegah angka kelahiran hingga 80 juta jiwa dari proyeksi jumlah penduduk 285 juta pada tahun 2000.

Merujuk pada hasil pengumpulan opini kompas, sosialisasi program KB di masyarakat terbilang cukup efektif. Berbagai instansi, baik negeri maupun swasta, turut berpartisipasi dalam menyemai informasi tentang KB melalui berbagai media. Mayoritas publik yang termasuk dalam rentang usia siap menikah, yaitu 24 tahun ke atas, mengaku pernah mendapatkan penyuluhan atau informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan KB.

Pemahaman tentang KB sedikit banyak memengaruhi persepsi dan opini tentang keluarga, mulai dari menetapkan jumlah anak yang akan dimiliki hingga penggunaan alat kontrasepsi yang berfungsi sebagai pengatur kehamilan. Faktor usia  dan tingkat pendidikan berkontribusi pula terhadap cara pandang publik dalam membina keluarga yang lebih terencana. Dalam konteks ini, KB tak sekadar sebagai program pemerintah semata, tetapi lebih jauh sebagai pijakan pola pikir publik tentang keluarga. (Annur Raushania)

Sumber:
CNN, diakses Pada 28 Desember 2015
Pazli dan Purwasandi, 2013. Strategi China Menghadapi Kepentingan Amerika Serikat Terhadap China’s One Child Policy. Jurnal Transasional Vol 5, No. 1.
The GUARDIAN, diakses pada 28 Desember 2015






Tuesday, April 21, 2015

Dari Gelap menjadi Semakin Gelap?

Emansipasi, nasionalisme, patriotisme, dan masih banyak hal lain yang terpajan dalam surat Kartini. Kualitas tak terbantah lagi. Tulisan yang nyata, kuat dan sesuai dengan jamannya. Namun, apa benar judul yang disumbangkan Abendanon sebagai inti dari semua surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, terwujud di jaman sekarang?

Siapa yang tak kenal dengan buku kumpulan surat RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang? Buku yang begitu melegenda. Guratan semangat perjuangan sangat kental terasa. Berkobar dengan cara yang halus, khas wanita jawa . Emansipasi menjadi agung, dan hingga saat ini dikenal sebagai hasil perjuangannya.  Selain itu,juga ada sisi yang hanya terjamah di permukaannya saja, nasionalisme.
 Kesatuan Indonesia secara utuh, ia sampaikan dengan tersirat. Tolakan keras terhadap feodalisme Jawa diutarakannya. Nasionalisme mengalir dalam darahnya, spontan bukan hanya karena ia ingin setara dengan kaum pria,tetapi juga karena jiwa kuatnya sebagai anak bangsa. Secara luas, ia ingin rakyat Indonesia berpendidikan pantas seperti bangsa lain.

Emansipasi, nasionalisme, patriotisme, dan masih banyak hal lain yang terpajan dalam surat Kartini. Kualitas tak terbantah lagi. Tulisan yang nyata, kuat dan sesuai dengan jamannya. Namun, apa benar judul yang disumbangkan Abendanon sebagai inti dari semua surat Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, terwujud di jaman sekarang?

Semu. Bukan berarti terwujud sepenuhnya, tetapi juga bukan berarti tak terwujud. Bagaimana tidak? Membaca salah satu dari kumpulan surat Kartini adalah mewah bagi generasi kartini kini. Saking mewahnya, tak sedikit yang lebih memilih mengisi waktu luangnya untuk memainkan jari indahnya di atas papan layar sentuh. Dampaknya, tak banyak wanita masa kini yang mampu mengimplementasikan dan meneruskan perjuangan RA Kartini.

Semu. Bukan berarti terwujud sepenuhnya, tetapi juga bukan berarti tak terwujud. Saat ini, wanita dapat dengan mudah menjangkau pendidikan tinggi. Menempuh pendidikan ke luar negri yang dirasa Kartini tabu, kini sudah bukan hal yang luar biasa lagi. Banyak gelar professor tersemat. Namun, apakah  dengan hal tersebut, masa sekarang bisa dikatakan terang, gelap yang lalu sudah hilang? Apakah dengan pendidikan tinggi, wanita jadi lebih beretika? Apakah dengan pendidikan tinggi wanita hormat dengan suami, peduli dengan keluarga? Apakah dengan pendidikan tinggi tak ada wanta yang korupsi? Apakah dengan pendidikan tinggi wanita sanggup menyerahkan diri untuk mengentaskan kemiskinan dan kebodohan saudaranya?

Semu. Bukan berarti terwujud sepenuhnya, tetapi juga bukan berarti tak terwujud. Sudah tak berlaku lagi di jaman sekarang buta dengan bahasa asing. Suatu hal positif yang tak dirasakan wanita era Kartini.  Wanita sekarang sudah tak lagi diharuskan bertutur kaku dengan bahasa Jawa krama. Bisa banyak bahasa asing justru menjadikan wanita sekarang lebih elok. Namun, apakah  dengan hal tersebut, masa sekarang bisa dikatakan terang, gelap yang lalu sudah hilang? Apakah dengan bisa brbahasa asing wanita jadi lebih sopan? Apakah dengan bisa berbahasa asing wanita jadi lebih menghormati orang tua dan temannya? Apakah dengan bisa berbahasa asing wanita jadi lebih berani untuk tampil di dunia Internasional dan mengharumkan tanah pertiwi?

Semu. Bukan berarti terwujud sepenuhnya, tetapi juga bukan berarti tak terwujud. Kini, tak ada larangan untuk menjadi wanita karir. Bebas memilih, mobilitas yang tak terkekang, katanya adalah bagian dari emansipasi dan demokrasi. Pulang lewat magrib tak jadi masalah. Hal – hal tersebut terasa begitu mahal bagi kaum Kartini dulu. Terkekang, harus berjalan bak putri keraton, tak boleh membawa sepeda sendiri, hanya mengandalkan lelaki yang bekerja hingga tak boleh keluar rumah, kecuali untuk berbelanja bahan kelontong. Namun, apakah  dengan kebebasan, masa sekarang bisa dikatakan terang, gelap yang lalu sudah hilang? Apakah dengan kebebasan wanita jadi lebih bertanggungjawab? Apakah dengan kebebasan wanita tak lagi dilecehkan kodratnya? Apakah dengan kebebasan, nama wanita menjadi harum? Apakah dengan kebebasan tak ada lagi wanita yang terjegal hal haram, seperti narkoba, perjudian, pelacuran dan porno aksi?

Dalam kesemuan itu berhakkah judul legendaris, Habis Gelap Terbitlah Terang dipupuskan? Berhak atau tidak adalah jawaban singkat yang juga semu. Kepastian hanya ada di dalam diri wanita Indonesia masing – masing. Kaum wanita kinilah yang menjadi penentu terwujudnya mimpi Kartini secara utuh.“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya”. Dari gelap menjadi terang, atau dari gelap menjadi semakin gelap? Hanya kaum wanitalah yang bisa memilih dan menciptakannya.

Mengutip sepenggal bait dari salah satu surat Kartini-November 1899, “Dan terang senyata hari ini, lukisan mata yang datang lalu melintasi semangatku. Gemetar tubuhku, melihat di masa yang di hadapanku itu, gambaran yang muram – muram bangkit naik. Aku tiada hendak melihat, tetapi mataku tinggal terbeliak juga, dan pada kakiku ternganga jurang yang sedalam – dalamnya, tetapi bila aku menengadah, melengkunglah langit yang hijau terang cuaca di atasku dan sinar matahari keemasan bercumbu – cumbuan, bersenda gurau dengan awan putih sebagai kapas itu; maka dalam hatiku terbitlah cahaya terang kembali.” Mari bersemangat  wanita Indonesia untuk mewujudkan terang yang utuh, terang yang tak pernah pupus oleh ruang dan waktu. Janne Hillary

Monday, April 20, 2015

Bahagiakah Kartini?

Siapa yang tak kenal Kartini, sosok wanita legendaris yang lahir sebelum kemerdakaan Indonesia?  Ia adalah seorang wanita yang memperjuangkan hak wanita untuk mengenyam pendidikan, membebaskan diri dari belenggu adat Jawa, dan menyadarkan para wanita untuk selalu bergerak. Kini, namanya abadi di seluruh saentero negeri.

Berkat perjuangan wanita asal Jepara ini, sekarang wanita telah diberi kesempatan di berbagai sektor pemerintahan, bebas berkarya, dan bebas melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Nyaris tidak ada larangan. Semua kesempatan terbuka lebar untuk wanita. Namun, apakah Kartini benar-benar bahagia bila melihat hasil perjuangannya yang tercermin dalam kondisi saat ini? 

Seiring dengan dibukanya kesempatan bagi wanita terdapat segunung masalah dihadapan mata. Diantaranya masalah-masalah tersebut adalah bebasnya pergaulan anak muda, kondom yang berserakan di mana-mana, mayat wanita yang bergelimpangan di semak-semak dan di sungai-sungai, narkoba yang masih mengancam masa depan anak bangsa, anak-anak yang terlantar di jalanan, anak-anak yang gemar menonton sinetron, generasi muda yang lebih senang menggandrungi gadget daripada buku, generasi muda yang hanya memoles wajah tanpa memoles daya pikirnya, miskinnya akses literasi di pelosok negeri, dan masih banyak lagi masalah yang tengah menimpa bumi pertiwi ini.

Tentu bukan itu yang diharapkan oleh Kartini dari upaya pembebasan yang dilakukannya di masa lalu. Ia menginginkan sebuah kondisi yang adil, makmur, dan beradab. Tanpa diskriminasi, ketimpangan sosial, dan permasalahan yang menjadi-jadi. Kartini memperjuangkan kebebasan intelektual bagi kaumnya bukan bebasnya pergaulan yang berdampak negatif, bukan pula bekerja dan tidak mendidik anak tetapi bekerja sembari mendidik anak dengan baik, bukan mati dengan tidak terhormat tetapi matilah dengan baik dan terhormat.

Wanita yang mengerti pendidikan adalah wanita yang dapat mendidik dengan hati dan membantu lingkungannya. Bukan wanita yang tidak mau sedikitpun membantu kalangannya karena merasa pendidikannya lebih tinggi. Bila wanita memilih menjadi ibu rumah tangga, wanita seyogyanya menjadi ibu rumah tangga yang merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, mendidik mereka untuk dapat sampai pada puncak pengetahuan dan kearifan, mengantarkan mereka menjadi anak bangsa yang berbudi luhur dan mencintai tanah air. Dengan begitu ibu rumah tangga telah mempersiapkan kemajuan bangsa di masa yang akan datang. Oleh karena itu tugas wanita yang telah mengenyam pendidikan adalah membebaskan mereka dari kebodohan, membebaskan mereka dari kemiskinan, dan membebaskan mereka dari ketertindasan penguasa yang hanya memperkaya diri sendiri. 

Jadi para Kartini muda, mari lanjutkan perjuangan yang belum selesai! Bergeraklah walau sedikit! 

Laelatul Badriyah

Monday, March 30, 2015

Penghapusan Subsidi: Langkah Tepat untuk Masa Depan Indonesia

Kita harus menyadari bahwa kita terlalu tergantung pada minyak untuk menjalankan roda kegiatan bangsa. Ketergantungan ini diperburuk dengan kemampuan penyulingan yang rendah dan menurunnya produksi minyak bumi yang membuat Indonesia menjadi net importir minyak. Menurut APBNP 2014, hingga Juni 2014 kita Cuma mampu lifting minyak mencapai 818 ribu barel per hari. Indonesia bukan lagi Negara Pengekspor Minyak, tahun 2008 Indonesia sudah keluar dariOPEC.


Geopolitik
dinamika sektor energi global di tahun 2015 dan tahun-tahun mendatang nantinya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor supply, demand, dan harga namun juga faktorlainnya seperti isu geopolitik dan stabilitas kawasan, seperti :
        - kawasan Timur Tengah. contohnya, Iran adalah produsen minyak utama dan telah mengancam untuk memblokade Selat-Selat di Hormuz untuk membalas aksi militer Amerika Serikat maupun Israel. Sekitar 40% dari perdagangan minyak dunia melewati selat-selat ini, sehingga dampak dari serangan militer di Iran pada ketahanan energi kita akan cukup besar. Irak adalah contoh lain. Negara ini berada dalam spiral aksi kekerasan. Di sekitar Irak dan Iran adalah negara-negara yang sedang menghadapi krisis, seperti Syria yang secara virtual sedang mengalami perang sipil dalam dua tahun terakhir. Menurut laporan World Energy Outlook 2012 oleh International Energy Agency, Asia diprediksi akan menyerap 90 persen ekspor minyak Timur Tengah di masa mendatang.
     - meskipun energi fosil saat ini dan dalam jangka menengah masih akan mempertahankan share-nya dalam energy mix dan merespon demand, isu emisi CO2 akan menjadi tantangan serius bagi industri migas global. Tuntutan perubahan iklim akan berkembang lebih serius dan ini tentunya akan direspon industri manufaktur untukmelakukan perubahan dalam desain industrinya. Industri otomotif, misalnya,diperkirakan akan semakin mengurangi produksi kendaraan berbasis BBM fosil dan akan lebih banyak memproduksi kendaraan berbasis BBM non-fosil.
       - Keadaan ekonomi di Zona Eropa dan Amerika masih menunjukkan ketidakpastian setelah selama 2012 kedua kawasan ini diterpa berbagai permasalahan ekonomi politikyang cukup kritis seperti resiko gagal bayar negara anggota Uni Eropa yang mendorong beberapa negara mengancam keluar dari keanggotaan Uni Eropa dan krisis jurang fiskal (fiscall cliff) serta dinamika politik di Amerika Serikat pasca kemenangan Barack Obama. dll.

Kerjasama dengan Asing
Mental dan wawasan kita harus diubah. Kita tidak boleh takut untuk berhubungan dengan ahli-ahli asing dan kerjasama dengan pihak asing yang dapat membantu kita meningkatkan infrastruktur dan pengetahuan energi kita. kerjasama dengan pihak asing akan memungkinkan kita untuk mengadopsi praktek terbaik dan teknologi yang ada di dunia, memotong kurva belajar kita secara signifikan. Contohnya,Pertamina telah memimpin sebuah konsorsium termasuk Exxon Mobil dan Total sejak tahun 2010 untuk mengamankan pasar bagi gas dari lapangan Natuna Timur.Kerjasama seperti ini memberikan efek knock-on pada perusahaan-perusahaan lokal,karena mereka belajar dari pengalaman-pengalaman rekan-rekan asing, sehingga membantu proyek-proyek lain, seperti blok Mahakam di Kalimantan Timur dimana pengetahuan akan operasi di laut dalam sedang dikembangkan.

Energi selain Minyak
Indonesia menikmati berbagai anugerah sumber daya energi alternatif. Salah satu contohnya adalah gas alam, yang terbukti dapat menjadi penyelamat dalam situasi minyak saat ini. Menurut badan regulasi minyak dan gas terdahulu, BP Migas, perusahaan- perusahaan yang beroperasi di Indonesia memproduksi 8,8 miliar cubic feet gas alam per hari di tahun 2011, atau 1,5 juta barel setara minyak, yaitu dua pertiga lebih banyak daripada produksi minyak. Terlebih, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun 2011 memperkirakan bahwa Indonesia mempunyai sumber daya gas sebesar 335 triliun cubic feet, setara dengan 59,6 miliar barel minyak. Penemuan gas di Selat Makassar baru-baru ini, yaitu blok Masela dan blok Natuna Timur menunjukkan potensi yang menjanjikan. Blok Natuna Timur sendiri, kita memiliki gas alam sebesar 46 triliun cubic feet yang diperkirakan dapat diekstrak untuk processing.

Selain itu, ada Gas Mentana Batubara. Gas Metana Batubara adalah gas yang serba guna yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai market. Gas ini juga sangat ekonomis, diharga setengah dari harga diesel, bersih, dan menggunakan teknik ekstraksi yanglebih efisien sehingga berdampak minimal pada lingkungan. Gas Metana Batubara juga lebih ekonomis karena biaya-biaya eksplorasi lebih rendah dibandingkan biaya eksplorasi sumur-sumur konvensional. Menurut CMB Asia Development Corpyang berbasis di Kanada, biaya pengeboran per sumur saat ini diperkirakansekitar USD 1 juta dengan menggunakan rig berkekuatan 500 hingga 700 tenaga kuda. Biaya pengeboran ini lebih menguntungkan dibandingkan biaya pengeboran on shore convensional di Indonesia yang menelan biaya sekitar USD 10 hingga USD30 juta per sumur.

Dalam jangka lebih panjang, kita seharusnya juga merencanakan ekstrasi gas - gas nonkonvensional lainnya, seperti shale gas, yang akhir-akhir menjadi pusat perhatian sesudah Amerika Serikat berhasil dalam area ini.

Diversifikasi energi mix melalui energi terbarukan
Sekitar 71% dari konsumsi energi primer di Indonesia selama 2011 adalah hidrokarbon. Tren dalam menggunakan hidrokarbon seperti minyak, gas dan batubara diprediksiakan tetap mendominasi energi konsumsi kita di masa depan. Kita harus menyadari bahwa di level konsumsi kita saat ini, sumber-sumber daya ini bisa segera habis.

Intensitas karbon seperti ini tidak hanya akan menyebabkan risiko yang serupa dengan ketergantungan pada minyak, namun juga kekhawatiran akan polusi berlebihan dan emisi gas rumah kaca. seperti yang dapat kita lihat di Cina dan India. Secara domestik, ketergantungan pada minyak dan gas akan memperburuk polusi dikota-kota besar, seperti Jakarta.

Oleh karena itu, energy mix seperti ini tidak dapat berlangsung dalam jangka panjang. Kita harus melakukan sesuatu untuk mendiversifikasikan energi mix dan mengurangi konsumsi hidrokarbon. Pemerintah Indonesia mengakui bahwa cepat atau lambat Indonesia dan seluruh dunia harus meninggalkan minyak mentah sebagai sumber listrik utama.

Sumber energi terbarukan
Secara geografis, Indonesia berada di atas cincin api Pasifik. Indonesia dianugerahi potensi Panas Bumi. Selain sumber panas bumi, juga ada biofuel dan bioethanol.Ada banyak sumber-sumber energi terbarukan lainnya di Indonesia yang dapat kita gunakan. Termasuk tenaga hidro dan tenaga laut, angin laut dan tenaga surya.

Secara keseluruhan, sektor gas alam dan energi terbarukan memiliki potensi pengembangan yang luar biasa. Langkah-langkah ini harus didukung oleh pemerintah agar mampu berkembang. Namun, satu isu yang menghantui pemerintah selama bertahun-tahun dan mengakibatkan dampak yang lebih besar daripada perkiraan yaitu : Subsidi.

Pengurangan Subsidi
Jumlah subsidi yang sangat besar tiap tahunnya berdampak pada membesarnya jumlah pinjaman untuk membiayai defisit anggaran.

Dalam APBN-P 2014 yang disahkan pada 30 Juni 2014, total subsidi yang dianggarkan adalah sebesar Rp403.035.574.566.000,00 tanpa diatur rinci penggunaannya dan hebatnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan realisasi pada tahun anggaran berjalan. Sehingga dalam APBN-P 2014jumlah defisit anggaran sebesar Rp241.494.273.662.000,00.

Dalam APBN 2015 yang disahkan pada 14 Oktober 2014, total subsidi yang dianggarkan adalah sebesar  Rp414.680.552.641.000,00 dan nanti akan diatur lebih lanjut lewat Peraturan Presiden RI yang ditetapkan paling lambat 30 November 2014. Dalam APBN 2015, jumlah defisit anggaran sebesar Rp245.894.690.062.000,00.

Subsidi juga sangat bermanfaat, karena menciptakan masyarakat yang hidupnya tidak sederhana, manja, malas jalan kaki, dan boros. Karena harga BBM “bersubsidi” yang murah, realisasi pemakaian BBM “bersubsidi” tiap tahun nya selalu melampaui kuota yang telah ditetapkan. Untuk tahun 2014, BBM yang disubsidi oleh pertamina diperkirakan akan habis sebelum 31 Desember 2014.

Sebelum lebih jauh, saya akan mengajak anda untuk sedikit mengetahui berapa jumlah utang pemerintah RI di akhir tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 dan per Juni 2014, berdasarkan data dari KeMenKeu RI. Akhir tahun 2009 sebesar 1590,7 T. akhir tahun 2010 sebesar 1676,9 T. akhir Tahun 2011 sebesar 1803,5 T. akhirTahun 2012 sebesar 1975,4 T. akhir tahun 2013 sebesar 2375,5 T. Realisasi utang pemerintah RI sampai dengan juni 2014 adalah sebesar 2507,5 T yang terdiri atas Pinjaman Luar negeri sebesar 693,9 T, Pinjaman Dalam Negeri sebesar 2,4 T, dan Surat Berharga Negera sebesar 1811,2 T.

Jika dianalisa, perkembangan jumlah utang pemerintah RI tiap tahun akan selalu garis lurus atau berhubungan dengan perkembangan jumlah subsidi tiap tahun.

Hal ini sangat bagus, karena berkat subsidi yang jumlahnya bombastis itu serta cuma 1 manfaat nya, yakni untuk menjaga popularitas Presiden RI saat itu. Kita lupa akan beberapa hal, seperti : peningkatan kualitas pendidikan yang merata diseluruh Indonesia, peningkatan kualitas kesehatan dan gizi diseluruh Indonesia, pengembangan Infrastruktur khususnya di wilayah perbatasan dan wilayah tertinggal, peningkatan jaringan Irigasi, dan penelitian dan pengembangan energi alternatif dan terbarukan, dll.

Tentu tidak mudah untuk menghilangkan “budaya subsidi” dalam APBN. Oleh sebab itu diperlukan orang – orang yang mempunyai mental – mental berani mengambil keputusan untuk mengurangi (menghapus) subsidi. Dampak dari pengurangan subsidi akan menyebabkan popularitas Presiden RI saat ini turun, tapi demi kemajuan negara dan harapan akan Indonesia yang lebih berdaulat, sejahtera, dan unggul. Itu harus dilakukan, toh 5 tahun kedepan kita juga pasti sudah bisa merasakan dampak nya.

Mengurangi subsidi tentu juga akan membuat iklim usaha dan perdagangan lebih kompetitif. Contohnya : investor akan lebih berani menginvestasikan dana nya dalam bidang energi alternatif dan terbarukan. Hal ini bagus, karena akan membantu kita keluar dari ketergantungan minyak.

Masih banyak masalah dalam sistem dan kebijakan pemerintah yang harus diperbaharui atau diperbaiki. Tentu semua nya itu tidak bisa diperbaharui atau diperbaiki secara serentak, dibutuhkan proses untuk itu.

Generasi masa depan kita tidak seharusnya menanggung akibat dari ketiadaan tindakan kita hari ini. (Diyonisius Agung Seda Nganggo)

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Iklan