Tuesday, November 17, 2015

Dampak Buruk Asap: Berujung pada Ketidakseimbangan Ekosistem

Ilustrasi kebakaran hutan/jurnalintelijen.id

Asap merupakan hasil atau produk dari pembakaran yang sempurna dan tidak sempurna, yang terdiri dari partikel partikel gas dan uap serta unsur unsur terurai yang dilepas dari suatu bahan yang terbakar. Semua bahan yang dapat terbakar akan menghasilkan karbon monosida (gas CO) dan karbon dioksida (gas CO2) dalam jumlah besar. Selain itu juga akan mengeluarkan zat-zat beracun seperti nitrogen monoksida dan sulfur dioksida, gas sulfur, formaldehida (dikenal sebagai formalin), hidrokarbon, partikel dan zat oksidan, serta puluhan bahan beracun lainnya. Dengan banyaknya kandungan zat berbahaya yang terdapat pada kabut asap, maka sangat mungkin bila hewan dan tumbuhan yang terpapar akan beresiko mengalami dampak buruk. Dampak buruk asap bagi tumbuhan dan hewan, secara langsung maupun tidak langsungadalah sebagai berikut

1. Mengganggu proses fotosintesis pada tanaman 
Gas nitrogen yang dikandung asap bagi tumbuhan menyebabkan bintik-bintik pada permukaan daun, bila konsentrasinya tinggi mengakibatkan nekrosis (kerusakan jaringan daun), sehingga fotosintesis terganggu. Dalam keadaan seperti ini daun tidak dapat berfungsi sempurna sebagai tempat terbentuknya karbohidrat melalui proses fotosintesis. Akibatnya tanaman tidak dapat berproduksi seperti yang diharapkan. Konsentrasi NO sebanyak 10 ppm sudah dapat menurunkan kemampuan fotosintesis daun sampai sekitar 60% hingga 70%.

2. Jasad renik punah
Asap yang berlebihan dapat menyebabkan hujan asam, plankton dan hewan invertebrata adalah yang pertama mati akibat pengaruh pengasaman ini, Jika hujan yang turun memiliki pH dibawah 5, tingkat kepunahan dapat mencapai 75%. Punahnya jasad-jasad renik ini dapat merusak rantai makanan dan pada akhirnya merusak keseimbangan ekosistem.

3. Hilangnya nutrisi untuk tumbuhan di dalam tanah 
Hujan asam yang larut ke dalam tanah akan menyapu nutrisi-nutrisi sebelum tumbuhan dapat menyerapnya dan menggunakannya sebagai bahan dasar fotosintesis. Dampak lainnya adalah tercampurnya zat – zat logam beracun seperti aluminium dalam tanah sehingga tumbuhan yang menyerapnya akan terhambat pertumbuhannya terserang penyakit, kekeringan dan mati.

4. Nekrosis daun 
Gas klorin yang terkandung dalam asap menyebabkan daun terlihat keputihan, terjadinya nekrosis antar tulang daun, tepi daun nampak seperti hangus.

5. Khlorosis daun
Gas sulfur dioksida dapat membunuh jaringan pada daun. pinggiran daun dan daerah diantara tulang-tulang daun rusak. Secara kronis sulfat menyebabkan terjadinya khlorosis. adalah keadaan jaringan tumbuhan, khususnya pada daun, yang mengalami kerusakan atau gagalnya pempentukan klorofil, sehingga tidak berwarna hijau, melainkan kuning atau pucat hampir putih.

6. Berujung pada ketidakseimbangan ekosistem  
Semua dampak buruk asap yang terpapar pada tumbuhan tersebut membuat hewan pemakan tumbuhan menelan zat zat berbahaya dari asap, akan terakumulasi dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Kematian pada hewan-hewan omnivora ini akan merusak keseimbangan ekosistem dan menyebabkan angka kematian yang lebih besar pada hewan. 

Indonesia dalam keadaan darurat, darurat asap yang menyebabkan degradasi lingkungan hidup, seperti yang telah dipaparkan di atas. Hal tersebut dapat merugikan kita baik secara badani dan rohani. Tuhan telah menitipkan pada kita alamnya untuk kita jaga, alam yang dapat menghidupi kita, Jagalah keseimbangan alam, niscaya alam akan membalas kebaikan yang kita lakukan padanya. 

Sumber:
  • Bahaya Kabut Asap Kebakaran Hutan. http://kabarimbo.com/bahaya-kabut-asap-kebakaran-hutan/. Diakses 15 November 2015 
  • Rahmawati. 2006. Dampak pencemaran udara terhadap tumbuhan. Karya Tulis Perancangan Pengelolaan Hutan, Universitas Sumatra Utara, Medan

Annur/Biosfer

Thursday, November 5, 2015

Mengingat Kembali: Kecelakaan Pesawat Terburuk Akibat Asap Kebakaran Hutan

Pesawat GA 152 yang jatuh di Sibolangit/airdisaster.com

Biosfer-Bencana asap akibat kebakaran hutan di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan bukanlah suatu hal yang baru. Kejadian ini terus berulang setiap tahunnya dalam dua dekade terakhir. Dampak negatif yang ditimbulkan dari kejahatan manusia itu sangat luas dan besar. Tercatat, pada tahun 1997 bencana asap di Medan memakan 234 korban meninggal. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah terjadinya bencana asap.

Surat kabar Kompas yang terbit hari Sabtu, 27 September 1997 menjadi saksi nahasnya peristiwa tersebut. Ratusan orang yang meninggal saat itu bukanlah korban langsung dari bencana asap. Mereka sebenarnya adalah korban kecelakaan pesawat. Namun bila ditarik benang merah, penyebab utama kecelakaan itu adalah asap kebakaran hutan.

Kompas membeberkan kronologi jatuhnya pesawat yang dimiliki maskapai penerbangan terbaik di Indonesia waktu itu. Garuda Indonesia jenis Airbus A300-B4 dengan nomor penerbangan GA 152, mengangkut 222 penumpang dan 12 awak pesawat hari Jumat (26/9) sekitar pukul 13.18 WIB jatuh terbakar di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, sekitar 30 kilometer dari Bandara Polonia, Medan. 

Pesawat lepas landas dari Jakarta dalam keadaan layak terbang dan dikendalikan langsung oleh pilot. Sumber lain airdisaster.com menuliskan, pada saat Garuda mau mendarat, Medan sedang diselimuti asap tebal akibat kebakaran hutan. Jarak pandang pilot-pun menjadi terbatas, sekitar enam ratus sampai delapan ratus meter, sehingga harus dituntun oleh petugas lalu lintas udara (ATC). 

Komunikasi diantara keduanya tidak berjalan lancar. Pesawat yang seharusnya belok ke kiri menghindari gunung, malah mengarah ke kanan, hingga akhirnya menabrak tebing gunung. Seluruh penumpang dan awak pesawat tewas. Musibah ini merupakan kecelakaan pesawat terburuk di tanah air, setidaknya dalam waktu sepuluh tahun terakhir.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat masyarakat Indonesia, betapa luas dan besarnya dampak buruk dari asap kebakaran hutan. Setelah diingatkan kembali, seharusnya rakyat Indonesia dapat belajar dan berupaya agar tahun-tahun selanjutnya tidak lagi terjadi kebakaran hutan.

Monday, October 26, 2015

Pergerakan Asap Indonesia, dari Sumatera hingga Filipina

Kabut tebal di kota Davao, Filipina akibat kiriman asap Indonesia/channelnewsasia.com

Biosfer-Siapa sangka, kebakaran hutan di beberapa daerah di Indonesia memiliki dampak buruk yang global? Tidak hanya satu-dua negara tetangga yang terkena imbasnya, setengah anggota ASEAN juga terpaksa menikmati polutan impor dari Indonesia. Tercatat dua negara tetangga terdekat, Singapura dan Malaysia menjadi penerima pertama paket bencana buatan manusia tersebut. Menyusul kemudian Thailand, Brunei dan Filipina.

ISP Singapura (26/10)/aqicn.org

Karena jaraknya yang dekat, Singapura dan Malaysia menjadi negara dengan dampak asap terburuk dibandingkan negara lainnya. Di Singapura, semua kawasan yang terkena asap dinyatakan tidak sehat huni. Diketahui Indeks Standar Polutan (ISP) yang didapatkan dari aqicn.org (26/10) lebih dari 150. Lain halnya di Malaysia, tidak semua kawasan yang terkena asap dinyatakan tidak sehat. Terdapat lima belas daerah yang dinyatakan sehat (ISP <50), 31 daerah tercemar sedang dan tersisa satu daerah, Pasir Gudang yang masih dinyatakan tidak sehat. Tingkat pencemaran tersebut menurun dari sehari sebelumnya (25/10), yang bedasarkan pantauan Departemen Lingkungan Malaysia (apims.doe.gov.my) terdapat tiga daerah tidak sehat.

ISP Malaysia (26/10)/apims.doe.gov.my

Selanjutnya, asap Indonesia juga memasuki wilayah selatan Thailand. Belum diketahui pasti besaran ISP di daerah tersebut. Namun, Pemerintah Thailand terus menghimbau warganya untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Bau asap yang menyelimuti Thailand Selatan menjadi tanda udara di sana tidaklah sehat, sehingga perlu bagi warga untuk mengenakan masker saat bepergian.

Lain halnya dengan tiga negara di atas, Brunei dan Filipina adalah negara tetangga yang tidak diprediksi sebelumnya mendapat kiriman asap Indonesia. Udara dua negara ini diketahui tercemar asap dengan level teringan yaitu dengan ISP baik sampai sedang (mediapermata.com). Masuknya asap ke dua negara tersebut dikarenakan iklim tropis yang buruk. Angin ribut yang menyertai iklim kedua negara menyebabkan asap Indonesia terbawa sampai ke langit Brunei dan Filipina.

Entah berapa Negara lagi yang harus merasakan imbas dari asap Indonesia. Merambahnya kawasan-kawasan baru yang terkena asap menjadikan kasus ini tak hanya kasus nasional melainkan kasus global yang harus segera diselesaikan. 

Tak Disangka, Asap Indonesia Sampai ke Filipina



Biosfer-Setelah asap Indonesia dikabarkan sampai ke Brunei, pada Jumat lalu (23/10) muncul satu nama negara lagi yang menerima kabut asap dari Indonesia. Media setempat pada Sabtu (24/10) melaporkan, asap kini mulai menyelubungi sebagian besar kawasan selatan Filipina yang berbatasan dengan perairan negeri Sabah, di timur Malaysia.


Puluhan penerbangan domestik di bandara pulau Cebu dan Negros tertunda akibat jarak pandang yang buruk. Hanya sejauh 1.2 kilometer yang terlihat jelas, yang normalnya bisa mencapai 10 kilometer. Selain itu, Philippine Airlines dan maskapai penerbangan low cost, Cebu Pacific juga membatalkan semua penerbangan antara ibu kota dengan bandar udara Dumaguete di bagian tengah Filipina.

Keberadaan asap di Filipina adalah hal yang tidak lazim, mengingat letaknya yang cukup jauh dari titik api kebakaran hutan di Kalimantan. Juru bicara badan peneliti cuaca Filipina, Manny Mendoza mengatakan, adanya angin tropika Typhoon Koppu yang menyerang kuat Filipina utara pada 18 Oktober lalu juga menjadi pemicu terperangkapnya asap di negara tersebut. "Asap tidak mungkin masuk ke Filipina tanpa ada angin ribut taufan dari Lautan Pasifik. Tiupan angin muson timur laut membawa asap dari Indonesia ke Filipina selatan," ujarnya.

Sunday, October 25, 2015

Kabut Asap Selimuti Langit Negara Sultan Bolkiah

Kabut asap selimuti ibu kota Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan/mediapermata.com.bn
Biosfer-Negara Sultan, Brunei Darussalam telah mengalami keadaan berasap sejak 8 September lalu. Jarak pandang mulai menurun dari normalnya sepuluh kilometer lebih menjadi lima kilometer. Dilansir dari mediapermata.com (25/10), Pemangku Pengarah Kaji Cuaca, Jabatan Kaji Cuaca Brunei Darussalam, Kementerian Perhubungan, Awang Muhamad Husaini bin Aji, mengatakan keadaan berkabut ini disebabkan asap kebakaran hutan dari Kalimantan dan Sumatera yang dibawa oleh angin barat daya.
Awang menambahkan, Brunei Darussalam diperkirakan akan terus mengalami keadaan berkabut pada level ringan sampai sedang yang diselangi dengan hujan maupun hujan petir. Walaupun demikian, hujan dalam beberapa hari ini masih belum dapat mengurangi masalah kabut asap.
ISP Brunei Darussalam (26/10)/Departemen Lingkungan, Kebun dan Pariwisata Brunei Darussalam
Adapun Indeks Standar Polutan (ISP) Brunei masih dalam kisaran rendah, sehingga rakyat masih dapat bernafas tanpa harus mengenakan masker. Departemen Lingkungan, Kebun dan Pariwisata Brunei Darusaalam (26/10) menyatakan kualitas udara Brunei tergolong baik. Kabut asap selama ini hanya mengusik pandangan warga, tidak mengganggu kesehatan saluran nafas. Dengan begitu, Brunei Darussalam termasuk Negara dengan dampak pencemaran teringan diantara Negara-Negara lain yang juga terkena asap Indonesia.  
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Iklan